 |
Transformasi Nosstress yang Dibully Ketika SMA
|
Oleh:
Luh De Suriyani,
Sebelum naik daun seperti saat ini, mereka korban
bullying ketika bermusik di sekolah.
Nosstress belum terbentuk ketika Nyoman Angga, Gunawarma Kupit, dan
Cok Bagus Pemayun bersekolah di SMA negeri yang sama, di bilangan Jl
Kamboja, Denpasar.
“Saya sekelas dengan Cok, seorang pemuda punk rock ganteng. Angga,
adik kelas yang kala itu juara umum di jurusannya, punya selera musik
yang hampir sama dengan saya. Kami berdua juga sempat gandrung dengan
music punk. Namun, mulai insyaf setelah punya gitar akustik dan rajin
membeli MBS (majalah lirik lagu dengan kord),” kata Kupit, yang
berkampung halaman di Ulakan, Karangasem ini.
Angga selain pintar secara akademis juga pernah juara nyanyi ketika
ultah Sisma. Suara pria berponi ini memang lebih meliuk-liuk di antara
ketiganya. Coba deh dengar Bersama Kita, track no 3 di Perspektif Bodoh,
album pertama Nosstress.
“Duduk sambil melihat wanita cantik menyapa dan diam lagi ketika
pria bekerja. Itu-itu aja. Bekerjalah, berfikirlah. Bekerja walau dengan
duduk, berpikir walau dengan diam.” Penggalan lirik
On the Job Trainning yang disenandungkan Angga. Seperti musikalisasi puisi.
Sementara Kupit, kini lebih suka gondrong ini sempat ikut lomba
mekidung. Olah mulut di dua lomba genre berbeda, keduanya toh akhirnya
terdampar di kelompok paduan suara Sisma. Angga dan Kupit lalu ikut
audisi band sekolah, membawakan lagu band Radja! “Wah pas SMA kita masih
pacul sekali seperti muncuk don biu,” seru Kupit.
Keriangan bernyanyi dan bermusik tak menyenangkan semua orang. Kupit
berkisah kepala sekolahnya (kepsek)-nya ketika itu tak menyukai acara
musik. Menurut Kupit, saat upacara bendera kepsek sering bilang begini,
“Pulang sekolah kongkow-kongkow ambil gitar, genjrang genjreng
sing karuan entekan, mau jadi apa kamu, Nak?”
Rusuh
Dalam satu kesempatan setelah tamat SMA, Kupit sempat diundang untuk
mengisi acara ultah Sisma. Baru melangkahkan kaki ke panggung dengan
gitar akustik di tangan, Pak Kepsek berteriak sambil menunjuk ,“Eh gus
kamu turun, ngapain kamu main musik di sini? Mau buat rusuh ya? Saya
bisa laporkan kamu ke polisi,” cerita Kupit yang menulis sebagian besar
lirik lagu.
Kenangan tentang sekolah itu tak hanya tergambar dalam cerita Kupit.
Masa berpakaian putih abu-abu itu juga terlihat menginspirasi sejumlah
lirik di album pertama mereka. Di antaranya
Smokking Kills.
“Saya bergaul dan tidak anti dengan orang-orang yang merokok. Itu kan pilhan mereka,” kata Kupit
.
Namun, mereka menyampaikan pertanyaannya sendiri tentang gaya hidup merokok tersebut.
“Aku mulai berpikir apa dilarang mati dengan cara yang tadi, dan aku mulai berpikir tak cukup hanya dengan menulis kata ini.” Kutipan lirik yang mengkritik pemerintah tidak tegas dengan peraturan peredaran rokok, dari sudut pandang
nonsmoker.
Penulisan lirik lagu ini berawal ketika pada suatu pagi kami
ketiganya menemukan bungkus rokok Marlboro berisikan tulisan SMOKING
KILLS. “Tulisan besar di depan bungkusnya, tapi untuk apa? Tetap aja
pabrik rokok makin menggila dan dijual bebas di negeri ini. Saya dengar
sih kalau di luar negeri ndak separah ini peredaran rokoknya,” ungkap
pemilik akun twitter @gunaqupitt ini.
Ketiganya pernah mengisap rokok, lalu berhenti. Lirik lagu ini bisa
jadi klise di mata perokok, tapi toh faktanya sikap orang yang memilih
tak merokok jarang mendapat dukungan di tengah pergaulan.
Nikahan
Kisah menuju nama Nosstress punya ceritanya sendiri. Beberapa bulan
setelah tamat SMA, Cok main ke rumah dan melihat Kupit dan Angga bermain
gitar sambil nyanyi. Cok mengajak untuk membentuk band akustik bersama
beberapa teman lainya. Terbentuklah “Crocourt Acoutic”, format enam
personil dengan membawakan lagu-lagu cover version.
Mereka manggung dari satu ulang tahun ke ulang tahun lainnya, bazaar,
nikahan dan lainnya. Di luar Crocourt ketiganya juga punya band bersama
satu teman lainnya (Reza) bernama “Stackato”. Pada tanggal 21 September
2007 Stackato diundang untuk bermain sebuh event di Bali Seamens Club
(BSC).
“Di sinilah keajaiban bermula,” sahut Kupit. Mereka mengenal Dion
(Dion & Kebun Tubuh, yang kala itu menjadi music director di BSC),
Brant Connors (pemilik BSC), Raoul (OneDollarForMusic, bule pemerhati
bakat yang suka nonton music sambil ngebir di BSC), Komunitas Pojok, dan
masih banyak lagi.
Mereka ditawari mengisi music regular di BSC. “Sangat senang karena di sana pertama kali kami main music dibayar. Akhirnya
ade bekel anggo meli es kopyor,”
katanya. Setalah hampir 6 bulan bermain regular ketiganya mulai bekerja
dengan One Dollar For Music (ODFM), komunitas yang konsen pada musisi
muda ini.
Di ODFM ketiganya mengaku bekerja dengan orang-orang dashyat, semacam
Raoul Wiffels, Jonas Sestakresna, Wukir Suryadi, Bimo Dwipoalam, Dion
Sudjatmiko dan Wawan Antipati. “Di sana kami banyak belajar dan mengubah
cara pandang kami dalam bermusik. Tahun 2008 hingga 2009 awal, semasa
bekerja di ODFM kami sepakat untuk bermain musik bertiga dan berubah
nama lagi menjadi “Sense Acoustic”.
Sense Acoustic mulai membawakan lagu-lagu karya sendiri dan seiring
dengan perkembangan musikalitas berubah nama lagi menjadi Nosstress.
Kupit pernah kuliah di New Media, Cok di Fakultas Hukum Unud, dan
Angga di Sekolah Perhotelan Bali. Di panggung, selain bermusik,
ketiganya juga kerap membanggakan aktivitas wirausaha mereka sambil
cekikikan.
Kupit pernah membuka usaha warnet tapi sudah selesai, sekarang masih
mencari celah lain. Angga menjual pulsa, bikin pesanan baju, dan
sebelumnya sempat kerja di sebuah yayasan kemanusiaan. Cok punya tambak
lele dan
clothing kecil-kecilan. “Jadi kami bertiga sebenarnya punya visi yang sama ingin jadi bos kecil,” Kupit terkikik.
Cita-cita itu mereka wujudkan dalam album Perspektif Bodoh yang
diluncurkan beberapa bulan lalu. Melalui lagu-lagu sederhana, mereka
mengingatkan tentang hal-hal sederhana, termasuk kebiasaan menunda
pekerjaan.
“Satu hal terbaik dalam hidupku adalah ketika aku mulai mengalah
mengerjakan segala masalah. Sekarang kukerjakan yang harusnya bulan
lalu, sorenya kukerjakan yang harusnya minggu lalu, sial malamnya itu
sudah berlalu, esok paginya kumulai dengan…. Tunda, tunda, sampai kau
menua dan tunggu-tunggu dulu.. “ teriak Kupit di track berjudul Tunda- dalam Perspektif Bodoh
.
Nosstress membawa suasana baru di musik indie Bali lewat Perspektif
Bodoh. Inilah album tentang narasi keseharian hidup untuk kamu, aku,
kita, dendangkan dengan suka cita. [b]
Yang mw download lagunya Nosstress nih link nya saya kasih
http://www.4shared.com/mp3/aLjCjkmU/Nosstress_ft_Sandrayati_Fay-Ki.html
http://www.4shared.com/mp3/UUI7ev0C/nosstress_-_bersama_kita.html
http://www.4shared.com/mp3/1gz9XYe4/nosstress_-_buka_hati.html
http://www.4shared.com/mp3/uQTVQsr2/nosstress_-_hiruk_pikuk_denpas.html
http://www.4shared.com/mp3/uVMFOq9v/nosstress_-_kantong_sampah.html
http://www.balebengong.net/kabar-anyar/2011/12/14/transformasi-nosstress-yang-di-bully-ketika-sma.html
www.nosstress.com